Kerjasama antarwarga dalam solidaritas dan toleransi positif hampir bergeser pemaknaannya. Kondisi sosial-ekonomi memindahkan kepentingan sosial ke arah kepentingan personal. Siapakah  kini yang mengetahui kiri-kanan tetangga kita?

“Guyub” dewasa ini adalah perilaku bersama dalam menghadapi persoalan bersama dengan melakukan aksi. Ini semata-mata dilakukan karena kita menjadi bagian korban dari pihak lain. Makna kini kebersamaan itu adalah tindak-tanduk reaktif.

Dulu, musyawarah, silaturahmi, adalah pemandangan sehari-hari. Bahkan, Tahlilan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi kebersamaan warga akan penderitaan sesama. Kini keguyuban dalam segala hal tak lebih dari penggalangan massal ketika orientasi politik dilakukan calon-calon lurah (kepala desa), walikota, bupati, hingga gubernur, presiden di tiap daerah. “Guyub” kemudian jadi begitu mengalami penyempitan makna, nyaris pada keakuan sosio-politis.

“Guyub” dijelaskan pada tipikal masyarakat anarkistis yang bersepakat dengan aturan sendiri, melawan dengan caranya sendiri. Perbedaan pendapat diakhiri dengan konfrontasi dua kubu sebagai bagian dari masyarakat yang menyatakan dirinya “guyub”.

Norma-norma sosial dilahirkan oleh komunitas sosial yang memandang baik-buruk adalah dalam tataran nilai yang ideal. Realitas adalah kenyataan, tempat idealitas bermuara. Bahkan sangat mungkin ditundukkan. Yang terjadi kemudian aturan personal, pengampu nilai “paling ideal”. Bertemunya keakuan adalah pola laku yang diwadahi kemudian.

“Guyub” adalah realitas sosial yang berkaitan dengan sikap-sikap normatif dan implikasinya menanggapi kenyataan yang ada. Pada awalnya begitu ideal ketika nilai di-filter demi kemaslahatan massal. Cara pandang sosial yang diayomi kepentingan kuasa mengarahkan guyup jadi tendensi; lahirlah baik-buruk, benar-salah sebagai sebuah asumsi, sudut pandang keakuan yang seringkali jauh dari proporsi kesucian.

Copyright © PUTIK - Universitas Pakuan